HUT RI-80 : Menyoal Merdeka dan Kemerdekaan

oleh -382 Dilihat

JAMBI – 2025 merupakan rentang panjang perjalanan Indonesia menapak kemerdekaan sejak proklamasi 1945. Ini bermakna Delapan dekade sudah bangsa ini mengibarkan pusaka kebanggaan Sang Saka Merah Putih sebagai simbol kemerdekaan dari penjajahan dan kezaliman kuasa asing terhadap ibu pertiwi.

Namun, di usia 80 tahun Indonesia merdeka, pertanyaan mendasar yang wajib diajukan kembali adalah: apakah kita benar-benar telah merdeka? Dan lebih jauh: apa makna kemerdekaan dalam konteks kekinian bagi rakyat Indonesia? Adakah Dekolonisasi itu telah merealitas kehidupan rakyat dan bangsa?

Merdeka Antara Simbol dan Substansi

Hakikat dan lumrahnya sejak 1945 setiap tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan dengan penuh gegap gempita-upacara bendera, lomba-lomba rakyat, konser nasionalisme, dan pidato kenegaraan yang menggugah. Namun, kemeriahan simbolik ini sering kali hanya menjadi pengulangan rutinitas tahunan yang hampir kehilangan makna substantial bagi sebuah bangsa besar seperti Inonesia.

Baca juga : Bawaslu Jambi Buka Posko Aduan PDPB

Oleh karena itu, seyogyanyalah kata “merdeka” yang dulu berarti lepas dari kolonialisme kini harus ditafsir ulang. Sebab penjajahan hari ini bukan lagi datang dalam bentuk konfrontasi persenjataan, invasi militer dan pencaplokan wilayah dengan kekerasan atau secara paksa oleh pihak asing, melainkan telah menjelma dalam bentuk ketimpangan sosial, ketergantungan ekonomi, polarisasi politik, dan krisis keadaban public dan lain-lain. Banyak warga masih “terjajah” oleh kemiskinan struktural, akses pendidikan yang timpang, dan kesenjangan digital yang melebar di tengah semangat transformasi teknologi dan informasi yang nyaris sukar dikawal.

Kemerdekaan Siapa dan untuk Siapa?

Adalah sebuah fenomena dan ironi yang tidak dapat dinafikan, bahawa di tengah gegap gempita perayaan, pekikan merdeka, tembakan salto, perbarisan paskibraka pengibaran sang saka merah putih, suara-suara dari pinggiran dan hujung negeri ini sering luput dari perhatian. Mulai dari hujung paling timur warga di pelosok Papua hingga hujung jauh Sumatera, dari pinggiran pesisir samudera India, Nusa Tenggara hingga perbatasan Kalimantan kerap kali hanya menjadi penonton dari narasi besar “Indonesia Maju” yang dikumandangkan dari pusat. Ketimpangan pembangunan masih menjadi luka lama yang belum benar-benar sembuh sesungguhnya.

Baca juga : Bidhumas Polda Jambi Gelar Pelatihan Konten Kreator

Pastinya jika kemerdekaan adalah soal kedaulatan, maka kita mesti bertanya: apakah petani berdaulat atas tanahnya? Apakah nelayan bebas menangkap ikan di lautnya sendiri tanpa ancaman korporasi besar? Apakah rakyat bisa dengan aman menyuarakan kritik tanpa dibungkam dengan pasal karet? Jika jawabannya belum, maka kita belum sepenuhnya merdeka. Dekolonisasi yang didengungkan nampaknya masih perlu diteruskan hingga nikmat kemerdekaan benar-benar menjadi realitas nyata dalam kehidupan bangsa “Merdeka” ini.

Generasi Muda dan Merdeka yang Baru

Disisi lain, sememangnya generasi muda Indonesia juga dihadapkan dengan tantangan yang berbeda. Mereka lahir di era keterbukaan informasi, globalisasi, dan kecerdasan buatan. Namun ironisnya, banyak yang merasa kehilangan arah. Mereka disuguhi pilihan tanpa makna, dijejali konten tanpa substansi, dan dipaksa berkompetisi dalam sistem pendidikan dan pasar kerja yang tidak manusiawi, bahkan tidak jarang jauh dari tuntutan syar’i.

Baca juga : Kapolda Jambi Terima Kunjungan Audiensi dari Rektor UNJA

Dengan itu, maka, menjadi Amanah dan tanggungjawab serta tugas kita bersama untuk mendefinisikan ulang makna merdeka bagi generasi ini. Bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik, tetapi merdeka dalam berpikir, berkarya, bermimpi dan merealisasikannya dalam realitas kehidupan dan masa depannya. Kemerdekaan yang memerdekakan imajinasi, menjunjung etika, serta membangun peradaban yang adil dan berkelanjutan. Bukan sekedar hanyut dalam jargon-jargon simbolisme semata.

Refleksi Kritis terhadap Negara

Republik Indonesia sebagai sebuah negara dan sebagai entitas politik yang seharusnya menjadi pelindung hak-hak rakyat, hari ini masih sering gagap dalam menjamin keadilan sosial sebagaimana tercantum dalam sila kelima Pancasila dan cita-cita kemerdekaan itu sendiri. Bahakan bukan sekedar isapan jempol bahwa sebagai negara hukum, ternyata hukum masih tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Birokrasi masih sering tersandera kepentingan politik dan ekonomi oligarkis.

Baca juga : Sambut Hari Kemerdekan, Yamaha Flagsship Shop Jambi Tebar Promo Menarik

Seharusnya kemerdekaan politik yang diperoleh pada tahun 1945 itu menjadi titik awal, bukan akhir. Namun hari ini, demokrasi kita tengah diuji oleh polarisasi identitas, politik uang, dan pragmatisme kekuasaan. Jika demokrasi tidak ditopang oleh literasi politik rakyat dan integritas elit, maka ia hanya akan menjadi ilusi prosedural belaka.

Proses yang Belum Usai

Sejatinya kemerdekaan bukan produk final, melainkan proses historis yang terus berlanjut. Ia harus dirawat, dikawal, dikritisi, dan diperjuangkan kembali setiap saat dan ketika. Bukan dengan perang senjata, tapi dengan keberanian bersuara, ketekunan bekerja, dan solidaritas yang tulus dari rakyat untuk rakyat, utk negara dan tanah tumpah darah kita dan pendiri bangsa ini.

Baca juga : Tinjau Dapur MBG, Polda Jambi Gelar Kunker ke Kabupaten Bungo

Justeru, dalam usia 80 tahun ini, bangsa Indonesia tidak hanya dituntut untuk mengenang sejarah, tetapi juga mencipta dan menuliskan sejarah baru yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. Merdeka bukan sekadar capaian masa lalu, melainkan tugas generasi kini dan mendatang.

Akhirnya, perayaan HUT RI ke-80 seharusnya menjadi momentum untuk merefleksi ulang apa arti “merdeka dan kemerdekaan” bagi kita semua. Bukan hanya merayakan simbol, tapi juga menggugat substansi. Bukan hanya melihat ke belakang, tapi menatap masa depan.

Saudaraku, Merdeka tidak selesai dengan proklamasi. Ia harus hidup dan eksis dalam setiap kebijakan yang adil, setiap tindakan yang bermoral, dan setiap langkah yang membebaskan manusia dari ketidakadilan. Dan karena itu, merdeka adalah tugas kita bersama. Hari ini, esok, dan seterusnya.

Baca juga : Jelang Presisi Merdeka Run 2025, Polda Jambi Laksanakan Apel Gelar Pasukan

Dirgahayu Indonesia ke-80. Semoga bangsa ini tidak hanya merdeka, tapi benar-benar menikmati kemerdekaan. Wallahu a’lam.

Oleh : Rusli Abdul Roni (Pengurus Jaminan Mutu(Quality) & Dosen Departemen Ilmu Sosial & Humaniora, College of Continuing Education (CCEd) Univesti Tenaga Nasional (UNITEN) Kampus Putrajaya Selangor-Malaysia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.